![]() |
| Add caption |
KH. ZAYYADI BIN ABDUL MU'THI
(1900–1991 M)
Santri Syaikhona Kholil Bangkalan, Ulama Kampung yang Bersahaja
Oleh: Nur Holis bin Uzairi
ASAL-USUL DAN MASA KECIL
Kyai Zayyadi. Begitulah masyarakat memanggil beliau. Nama tersebut begitu lekat dan dikenal, terutama di kalangan para kiai sepuh di Bangkalan.
Nama asli beliau adalah Basuni, putra K. Abdul Mu'thi bin Ahmad dan Nyai Nurbati binti Quraisyin.
Beliau lahir di Desa Kranggan Timur, Galis, Bangkalan, dari keluarga petani. Namun, sejak Basuni masih kecil, ayahnya telah menyimpan cita-cita besar bagi masa depan putranya. Suatu ketika, sang ayah berkata:
«“Cukup saya yang menjadi petani. Anakku akan aku jadikan kiai.”»
Ucapan tersebut bukan sekadar harapan. Di tengah kehidupan yang sederhana, Abdul Mu'thi berusaha sungguh-sungguh untuk mewujudkannya.
Basuni kecil kemudian dikirim untuk menimba ilmu kepada seorang alim besar yang juga dikenal sebagai wali Allah, Hadrotus Syekh KH. Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.
SANTRI SYAIKHONA KHOLIL
Basuni muda mondok cukup lama di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan. Hal ini berbeda dengan sebagian santri pada masa itu yang setelah beberapa waktu berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya.
Beliau pernah bercerita:
«“Aku itu mondok sekamar dengan As'ad. Umurku tidak jauh dengannya.”»
Yang dimaksud adalah KH. As'ad Syamsul Arifin, ulama besar dari Situbondo.
Sebagai salah seorang santri Syaikhona Kholil, KH. Zayyadi menyimpan banyak cerita tentang gurunya. Sayangnya, sebagian besar kisah tersebut tidak sempat ditulis oleh putra-putra beliau. Akibatnya, banyak cerita hanya tersimpan dalam ingatan, kemudian perlahan memudar seiring berlalunya waktu.
Belakangan, saya memperoleh informasi dari seorang kiai yang pernah berziarah ke makam KH. Zayyadi. Ia bercerita bahwa dirinya menemukan banyak kisah tentang Syaikhona Kholil yang sanad ceritanya bersumber dari KH. Zayyadi.
Menariknya, menurut penuturannya, sebelumnya ia tidak mengenal KH. Zayyadi. Hingga suatu ketika ia mengaku bertemu beliau dalam mimpi dan diperkenalkan kepada sosok tersebut. Karena itu, ketika berziarah ke Bangkalan, ia menyempatkan diri datang ke makam KH. Zayyadi.
Kecintaan kepada Guru
Salah satu hal yang sangat menonjol dari KH. Zayyadi adalah kecintaan dan penghormatan beliau kepada gurunya, Syaikhona Kholil.
Di sebuah kampung yang tidak jauh dari kediaman beliau terdapat sebuah langgar yang dahulu menjadi tempat menitipkan kuda milik Syaikhona Kholil. KH. Zayyadi sering mendatangi tempat tersebut. Bagi beliau, tempat itu bukan sekadar sebuah langgar, tetapi merupakan atsar, peninggalan yang mengingatkan beliau kepada gurunya.
Ada pula sebuah kisah yang menunjukkan betapa kuat kehati-hatian beliau dalam menjaga apa yang telah diajarkan gurunya.
Suatu ketika, KH. Zayyadi menjadi imam doa dalam sebuah acara. Dalam doanya, beliau menggunakan dhamir mutakallim. Salah seorang kiai kemudian menegur dan membenarkannya.
KH. Zayyadi menjawab dengan santun:
«“Engko' afal Alfiyah, keng engko' tako' se ngobeh polana deri guruh.”»
Artinya:
«“Saya hafal Alfiyah, tetapi saya takut mengubahnya karena itu berasal dari guru saya.”»
Bagi beliau, ilmu bukan hanya tentang mengetahui benar dan salah secara teoritis, tetapi juga tentang adab kepada guru dan menjaga amanah ilmu yang diterima.
PERNIKAHAN DAN PERPINDAHAN KE KRANGGAN TIMUR
Setelah keluar dari pesantren, KH. Zayyadi menikah dengan Nyai Hj. Zubaidah binti K. Nawawi bin Muhammad Sholeh Pakong, yang nama aslinya adalah Nyai Yumna.
Keduanya masih memiliki hubungan kekerabatan. K. Muhammad Sholeh dan K. Ahmad, kakek KH. Zayyadi, merupakan saudara dan sama-sama putra Kyai Tarbiyah Pakong. Dengan demikian, KH. Zayyadi dan Nyai Zubaidah masih memiliki hubungan keluarga dua pupu.
K. Nawawi merupakan pendiri Pondok Annawawiyah Barat Jalan Pakong.
KH. Zayyadi sempat tinggal bersama mertuanya dan membantu mengajar di pondok tersebut. Setelah kakak iparnya, Kyai Bahar bin Nawawi, siap menggantikan ayahnya sebagai pengasuh, KH. Zayyadi kemudian berpindah ke Kranggan Timur, Galis, Bangkalan.
Di desa inilah beliau menjalani sebagian besar hidupnya sebagai seorang ulama kampung.
Beliau juga pernah tinggal di Makkah dan berguru kepada sejumlah ulama di sana, di antaranya Syekh Hasan Indragiri. Beliau beberapa kali pergi ke Makkah dan bahkan pernah memiliki keinginan untuk menetap di sana. Namun, keinginan tersebut tidak terlaksana karena beliau masih dibutuhkan oleh masyarakat di kampung halamannya.
KEHIDUPAN KELUARGA DAN NYAI ZUBAIDAH
Di balik perjalanan panjang KH. Zayyadi, terdapat sosok istri yang dikenal sabar dan taat kepada suami, yaitu Nyai Zubaidah binti K. Nawawi bin Muhammad Sholeh bin Kyai Tarbiyah Pakong.
Beliau merupakan pengamal Tarekat Naqsyabandiyah. Gurunya, Hadrotus Syekh Kiai M. Siraj Sampang, pernah dawuh:
«“Seandainya dia ini laki-laki, maka dia ini mursyid.”»
Ucapan tersebut menggambarkan kedalaman pengamalan tarekat Nyai Zubaidah.
Dikisahkan, ketika Nyai Zubaidah sedang berhalangan, gurunya bahkan menunggu hingga beliau suci untuk melakukan tawajjuh, yaitu bimbingan dalam pengamalan tarekat.
Nyai Zubaidah wafat sekitar tahun 1987 M, pada malam Jumat di bulan Rajab, setelah mengalami sakit dalam waktu yang cukup lama.
ULAMA KAMPUNG YANG BERSAHAJA
KH. Zayyadi tidak pernah mengejar popularitas. Beliau menjalani kehidupan dengan sederhana: berkebun, mengajar, beribadah, dan hadir di tengah masyarakat.
Beliau mengajarkan kitab-kitab dasar fikih, seperti Sullam dan Safinah, kepada para petani dan masyarakat pedalaman. Selain itu, beliau juga mengajarkan Al-Qur'an, tajwid, tafsir, dan tasawuf kepada para santrinya.
Meskipun tidak begitu dikenal luas, kediaman beliau justru sering didatangi para kiai untuk bersilaturahmi, mengikuti kegiatan tarekat, serta menggali pengetahuan tentang turats keilmuan Syaikhona Kholil.
Beliau juga sangat gemar bersilaturahmi. Pasar menjadi salah satu tempat yang sering beliau kunjungi. Di sana, beliau senang berbincang dengan siapa saja dan mendoakan mereka.
Salah seorang cucunya yang sejak kecil diasuh oleh beliau pernah bertanya mengapa beliau mendoakan orang-orang yang berbeda agama. Dengan sederhana beliau menjawab:
«“Siapapun mereka, pekerjaannya memberi manfaat bagi kehidupan banyak orang. Dulu Kiai Kholil melakukan itu, saya menirunya.”»
Dari beliau, sang cucu belajar bahwa menjadi kiai bukan hanya tentang mengajar kitab, tetapi juga tentang menebarkan manfaat dan menjaga hati dari kebencian.
Beliau pernah berkata:
«“Karena kebencian adalah penjara batin.”»
KISAH-KISAH KAROMAH
Banyak santri Syaikhona Kholil yang kemudian menjadi ulama besar dan dikenang melalui kisah-kisah karamah. Demikian pula KH. Zayyadi.
Beliau tidak dikenal masyarakat secara luas sebagai seorang wali. Namun, beberapa orang yang mengaku menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa tertentu meyakini beliau sebagai wali mastur, yaitu seorang wali yang kewaliannya tidak ditampakkan kepada masyarakat.
Salah satu kesaksian datang dari Kyai Nawawi Karang Tanjung, Kwanyar, yang pernah berkata di hadapan keluarga:
«“Kyai Zayyadi itu wali. Saya menyaksikan sendiri karomahnya.”»
Beliau kemudian menceritakan tentang pembangunan sebuah mushalla. Ketika melihat arah kiblatnya, KH. Zayyadi menegur bahwa arahnya tidak tepat. Setelah diperiksa kembali oleh beberapa kiai, ternyata arah tersebut memang mengalami kemiringan.
Kyai Nawawi juga mengatakan bahwa masih ada karamah KH. Zayyadi yang tidak boleh diceritakan. Ketika ditanya kisah apa yang dimaksud, beliau hanya menjawab:
«“Tidak boleh.”» ( karena tidak di ijinkan )
Ada pula kisah ketika suatu hari KH. Zayyadi berpakaian sangat rapi, mengenakan jas, kemudian duduk di depan rumah seolah sedang menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan datang Kyai Fuad Amin, cicit guru beliau. KH. Zayyadi langsung menyambut:
«“Monggo, Kyai.”»
Kyai Fuad merasa terkejut karena kedatangannya tidak diberitahukan sebelumnya.
Kisah lainnya datang dari keluarga. Pada suatu malam, seorang tamu yang tidak dikenal datang ke rumah KH. Zayyadi. Beliau berbincang dengan tamu tersebut menggunakan bahasa Arab. Menantunya yang menyaksikan kejadian itu kemudian menceritakannya kepada keluarga.
Ketika ditanya siapa tamu tersebut, KH. Zayyadi menjawab:
«“Itu malaikat yang mau mencabut nyawa saya.”»
Menurut kisah yang diwariskan keluarga, sekitar dua bulan kemudian beliau wafat.
Kisah-kisah tersebut merupakan kesaksian dan cerita yang diwariskan oleh orang-orang yang hidup di sekitar beliau. Kebenaran setiap peristiwa tentu menjadi wilayah keyakinan masing-masing. Namun, kisah-kisah itu tetap menjadi bagian dari kenangan masyarakat tentang sosok KH. Zayyadi: seorang ulama yang sederhana, teduh, dekat dengan masyarakat, dan menyimpan banyak kisah yang tidak semuanya dapat dijelaskan dengan mudah.
SILSILAH KELUARGA
Berdasarkan silsilah yang ditulis oleh Kyai Bahar bin Nawawi, yang dikuatkan oleh KH. Zayyadi sendiri serta beberapa sesepuh lainnya, silsilah KH. Zayyadi bersambung kepada Kyai Abdullah Lembung, suami Nyai Aminah binti Sunan Cendana.
1. Abdullah
Makam di Lembung, Morkoneng, Kwanyar, Bangkalan.
Suami Nyai Aminah Lembung binti Sunan Cendana.
↓
2. Muhibbaddin Bujuk Pejaten
Makam di Nungsereng, Kwanyar, Bangkalan.
Suami Nyai Lengguleng.
↓
3. Taba (Mujtaba) Bujuk Moppoan
Makam di Murlebbak, Nungsereng, Kwanyar, Bangkalan.
Suami Nyai Damiyah binti Rasuli.
↓
4. Ahmad Hafil Bujuk Jekah
Makam di Sattoan, Pakong, Modung, Bangkalan.
↓
5. Bujuk Tarbiyah
Makam di Seccang, Pakong, Modung, Bangkalan.
Suami Nyai Jamaliyah.
↓
6. K. Ahmad
Makam di Seccang, Pakong, Modung, Bangkalan.
↓
7. K. Abdul Mukti
Makam di Ksambih Mursaba, Kranggan Timur, Galis, Bangkalan.
Suami Nyai Nurbati binti Quraisyin.
↓
8. KH. Zayyadi
Makam di Masjid Kampung Salam, Kranggan Timur, Galis, Bangkalan.
Suami Nyai Zubaidah binti K. Nawawi bin Muhammad Sholeh bin Kyai Tarbiyah Pakong.
Al-Fatihah.
UMUR PANJANG DAN KEPULANGAN
Syaikhona Kholil dikenal sering mendoakan para santrinya:
«“Santriku, semoga diberi umur panjang dan barakah.”»
KH. Zayyadi termasuk salah seorang santri yang dikenal berumur panjang. Dalam salah satu kitab yang pernah saya baca, beliau menulis:
«“Sengko' sateyah omor 105.”»
Artinya:
«“Sekarang saya berumur 105 tahun.”»
Namun, mengenai usia tersebut terdapat catatan yang perlu diperhatikan. Tahun kelahiran beliau belum dapat dipastikan secara valid. Berdasarkan beberapa data yang ada, beliau diperkirakan lahir sekitar tahun 1900 M.
Dengan demikian, jika tahun kelahiran tersebut digunakan sebagai patokan, usia beliau ketika wafat pada tahun 1991 M belum mencapai 105 tahun. Karena itu, angka 105 tahun sebaiknya dipandang sebagai bagian dari catatan pribadi beliau yang masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Pada Senin sekitar pukul 03.00 dini hari, 28 Rabiul Awal 1412 H / 7 Oktober 1991 M, KH. Zayyadi berpulang ke hadirat Allah SWT. Sebelumnya, beliau menghadiri acara Maulid di rumah cucunya.
Beliau kemudian dimakamkan di Masjid Kampung Salam, Kranggan Timur, Galis, Bangkalan.
PENUTUP
KH. Zayyadi telah melewati perjalanan hidup yang panjang. Dari seorang anak petani bernama Basuni, beliau tumbuh menjadi seorang santri Syaikhona Kholil, kemudian menjadi guru, pengamal tarekat, dan ulama kampung yang hidup sederhana di tengah masyarakat.
Beliau tidak meninggalkan nama besar melalui kemewahan atau jabatan. Warisan beliau justru tumbuh melalui ilmu, adab, silaturahmi, doa, dan keteladanan.
Mungkin karena itulah, nama beliau tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah belajar, bertemu, dan menyaksikan kehidupan beliau.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada KH. Zayyadi, menerima seluruh amal ibadahnya, meninggikan derajatnya, serta menjadikan ilmu dan keteladanan yang beliau tinggalkan sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
Al-Fatihah.





























































































































































